Senin, 24 November 2014

Kode Perilaku Profesional (A. Peraturan Perilaku)

Tugas 2 : Kode Perilaku Profesional      

       Dalam dunia lembaga akuntansi ada namanya kode etik profesi akuntansi, kode etik adalah suatu peraturan etika yang harus diterapkan bagi para profesi akuntansi. Kode etik sendiri diperlakukan agar mencegah prilaku-perilaku penyimpangan para angota maupun kelompok yang tergabung dalam profesi akuntansi yang dapat mencoreng istasi akuntansi. Di Indonesia sediri mempunyai istasi dibidang akuntasi IAI, dan seetiap Negara juga mempunyai istasi akuntasi, dan memiliki etika  etika akuntansi tersendiri.
     Kode etik profesi di definisikan sebagai pegangan umum yang mengikat setiap anggota, serta sutu pola bertindak yang berlaku bagi setiap anggota profesinya. Alasan utama diperlukannya tingkat tindakan profesional yang tinggi oleh setiap profesi adalah kebutuhan akan keyakinan publik atas kualitas layanan yang diberikan oleh profesi, tanpa memandang masing – masing individu yang menyediakan layanan tersebut. Kode perilaku profesional terdiri dari : Prinsip – prinsip, peraturan etika, interpretasi atas peraturan etika dan kaidah etika.


Kode perilaku profesonal
       Untuk saat ini belum ada pelangaran kode etik akuntasi, akan tetapi setiap seorang akuntan harus mematuhi kode etik akuntan dan setandar akuntan  yang berlaku, yang telah dibuat oleh sekelompok atau lembaga akuntan. hal ini supaya seorang akuntan tidak biasa mengerjakaan tugas akuntan seenaknya, Dalam penerapan kode etik akuntan sendriri pasti mempunyai tujuan .

Tujuan Kode etik :
·  Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
·  Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
·  Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
·  Untuk meningkatkan mutu profesi.
·  Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
·  Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
·  Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
·  Menentukan baku standa

    Dalam tujuan kode etik ini digunakan agar para akuntan dalam melaksanakan pekerjaanya dilakukan secara prefesonal dan terhindar dari interpensi dari lingkungan dari luar.
          Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai berikut : (Mulyadi, 2001: 53)

1.  Tanggung Jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

2.  Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara. Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut. Dan semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.


3.  Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.



4.  Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain. Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktek publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang orang yang ingin masuk kedalam profesi. Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.


5.  Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seharusnya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka miliki. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkat pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masing masing atau menilai apakah pendidikan, pedoman dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk bertanggung jawab yang harus dipenuhinya.

6.  Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan. Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.

7.  Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

8.  Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan,


Tugas 3 : Peraturan Perilaku
       Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.

      Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya. Kepatuhan-kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya. Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
        Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung-jawab profesionalnya.
        Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian: (1) Prinsip Etika, (2) Aturan Etika, dan (3) Interpretasi Aturan Etika. Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan.

Aturan Etika :
·   Independensi, Integritas, dan Obyektifitas
·   Standar Umum dan Prinsip Akuntansi
·   Tanggungjawab kepada Klien
·   Tanggungjawab kepada Rekan Seprofesi
·   Tanggung jawab dan praktik lain








Sumber:
·  Christina, 2012, Kode Perilaku Profesional
·  Rudy Minory, 2013, Kode Etik Profesi Akuntansi
·  Intan Nurliah Tirta, 2013, Kode Etik Profesi Akuntansi
·  Aira Nursyahidah, Kode Etik Akuntan Indonesia





Oleh : Silvia Rachman, 26211770, 4EB25

Kamis, 06 November 2014

KASUS ENRON

Sejarah Enron

           Enron didirikan pada tahun 1985, yang merupakan hasil merger antara perusahaan Houston Natural Gas dan Internorth, sebuah perusahaan pipa. Pada saat itu, Enron dipimpin oleh Kenneth Lay sebagai CEO dan hanya berkecimpung dalam industri pipa gas.
          Selama proses merger, Enron mempunyai hutang yang cukup besar. Ditambah dengan masalah peraturan pemerintah yang mempersulit industri pipa, Enron mempunyai hutang yang lebih besar lagi. Untuk mengatasi hutang tersebut, Kenneth Lay berkonsultasi pada McKinsey&Co. McKinsey pada saat itu menugaskan Jeffrey Skilling.
          Selama masa penugasan, Skilling memberikan ide yang brilian, yaitu memperlakukan gas sebagai objek derivatif. Tertarik dengan ide tersebut, Lay memberikan tawaran pada Skilling untuk masuk ke Enron dan mengepalai sebuah divisi baru, yaitu Enron Finance Corppada tahun 1990. Jeff Skilling menyanggupi tawaran tersebut, dengan syarat diperbolehkannya ‘mark to market accounting’ atau yang sering disebut dengan metode ‘fair value’. Setelah meminta ijin pada US Securities and Exchange Commission (US SEC), Enron diperbolehkan untuk menggunakan praktik ‘mark to market accounting’.
          Dengan menjadikan gas sebagai objek jual beli, Enron perlahan-lahan mulai bangkit. Selama perjalanan ini, Jeff Skilling diangkat sebagai COO Enron dan merekrut berbagai karyawan-karyawan yang unggul dalamfuture/derivative. Dalam perekrutan tersebut, Jeff Skilling merekrut Andrew Fastow.
          Seiring dengan berhasilnya jual beli gas, Enron mulai masuk pada jual beli pada industri yang berbeda, seperti listrik, batu bara, kertas, air dan bahkan cuaca dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar. Sehingga pada tahun 1998, Enron mempunyai lebih dari sepuluh objek komoditas yang dapat diperjualbelikan.
          Keberhasilan Enron dalam menjual beli objek komoditas tersebut, mengakibatkan melonjaknya nilai saham dan ambisi Kenneth Lay dan eksekutif lainnya. Untuk mempertahankan nilai sahamnya, Jeff Skilling menutupi kerugian-kerugian investasinya dengan menerapkan prinsip ‘mark to market accounting’ dan dibenarkan oleh KAP Arthur Anderson. Selain itu, Andrew Fastow juga melakukan manipulasi dengan membuat berbagai related party dan ratusan EBK.
          Pada tanggal 29 November 1999, Enron meluncurkan Enron Online. Enron Online merupakan terobosan baru dalam melakukan jual beli energi secara online. Dalam 3 bulan setelah Enron Online diluncurkan, saham Enron naik lebih dari 30%.
          Tidak lama dari peluncuran Enron Online, Enron membeli telekomunikasi DSL (broadband) dan disimpan. Pada saat itu, para analis bertanya-tanya, mengapa Enron tidak menjual beli broadbandtersebut, seperti pada komoditi lainnya. Hingga pada tanggal 19 Juli 2000, Enron mengumumkan kerjasama dengan perusahaan video, BlockBuster, untuk menawarkan jasa rental video melalui DSL. Diperkirakan, pada akhir tahun 2000, jasa tersebut sudah siap. Tidak sampai dua hari kemudian, saham Enron melonjak lebih dari 34%. Perjanjian dengan BlockBuster ternyata tidak berujung dengan baik, dan akhirnya gagal. Namun, dengan menggunakan mark to market accounting, Enron mencatat penghasilan sebesar US$53,000,000.
          Pada tanggal 23 Agustus 2000, saham Enron mencapai posisi paling tinggi, yaitu US$90 per lembar saham. Namun, harga tersebut tidak berlangsung lama. Dampak dari gagalnya perjanjian dengan BlockBuster mengakibatkan turunnya harga saham Enron. Selain itu, investasi Enron yang bernilai lebih dari US$1,000,000,000 di India, gagal dan dinyatakan tutup pada bulan Juni 2001.
Jeff Skilling yang baru diangkat menjadi CEO pada bulan Februari 2001, mengundurkan diri pada tanggal 14 Agustus 2001 karena alasan pribadi. Selain itu, Jeff Skilling juga menjual semua saham Enron yang dimilikinya sebesar kurang lebih US$60,000,000. Pada saat itu, harga saham Enron sudah turun sampai dengan US$40 per lembarnya.
          Setelah Jeff Skilling mengundurkan diri, Sherron Watkins yang menjabat sebagai Vice President di Enron, mengirim surat kepada Kenneth Lay. Pada surat tersebut, Sherron Watkins menyampaikan pesan bahwa terdapat banyak unit bisnis (yang terdiri dari partnership dan EBK) dari Enron yang tidak dicatat di laporan keuangan Enron, walaupun sebenarnya harus dicatat. Unit-unit bisnis tersebut mempunyai kinerja yang buruk. Sehingga, apabila unit-unit bisnis tersebut dikonsolidasikan dengan Enron, akan berdampak sangat negatif pada Enron.
Tidak lama kemudian, Sherron Watkins dan Kenneth Lay melakukanmeeting. Pada pertemuan tersebut, Sherron bersikeras bahwa terdapat kebocoran di Enron dan menganggap kebocoran tersebut dilakukan oleh Jeff Skilling dan Andrew Fastow. Namun, Kenneth Lay beranggapan bahwa semua unit bisnis yang ada, sudah mendapat persetujuan dari KAP Arthur Andersen, Vinson & Elkins law firmbeserta semua BOD Enron. Kenneth Lay berjanji pada Sherron untuk melakukan investigasi internal pada unit-unit bisnis.
           Keadaan semakin bersitegang pada saat Sherron Watkins memaksa Kenneth Lay untuk melakukan revaluasi ulang terhadap laporan keuangannya. Setelah menimbulkan masalah internal ini di Enron, Sherron Watkins mendapat banyak kritikan karena terlalu agresif. Andrew Fastow ingin agar Sherron Watkins dipecat dan menyita komputernya.
          Pada akhirnya, tanggal 12 Oktober 2001, KAP Arthur Anderson menyarankan untuk melakukan konsolidasi pada beberapa SPE yang dimilikinya. KAP Arthur Anderson mulai menghancurkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Enron pada tanggal tersebut. Berdasarkan saran dari KAP Arthur Anderson tersebut, Enron melakukan konsolidasi pada dua SPEnya, yaitu Raptor dan Condor. Dengan dikonsolidasikannya SPE tersebut, Enron menjadi rugi dan pada tanggal 16 Oktober 2001, Enron mengumumkan kerugian sebesar US$618,000,000 dan US$1,010,000,000 non recurring charge. Tidak lama kemudian, 17 Oktober 2001, US SEC mengumumkan pemeriksaan terhadap laporan keuangan Enron.
          Atas investigasi tersebut, ditemukannya berbagai fraud yang timbul akibat kompleksnya SPE yang dimiliki oleh Enron. Andrew Fastow kemudian ditangkap. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh US SEC, dan pada tanggal 8 November 2001, Enron merevisi laporan keuangannya selama lima tahun ke belakang, dan mencatat kerugian sebesar US$586,000,000.
Sampai pada tanggal 28 November 2001, saham Enron berada di bawah US$1 untuk per lembar sahamnya. Sehingga pada tanggal 2 Desember 2001, Enron dinyatakan bangkrut.


Independensi Mental
          Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi dapat juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.
         Carey dalam Mautz mendefinisikan independensi akuntan publik dari segi integritas dan hubungannya dengan pendapat akuntan atas laporan keuangan.Independensi meliputi:
1.       Kepercayaan terhadap diri sendiri yang terdapat pada beberapa orang profesional. Hal ini merupakan bagian integritas profesional.
2.                       Merupakan istilah penting yang mempunyai arti khusus dalam hubungannya dengan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan. Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.
          Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan masyarakat pada profesi akuntan publik dan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menilai mutu jasa audit. Independensi akuntan publik mencakup dua aspek, yaitu:
  1. Independensi sikap mental, yaitu adanya kejujuran di dalam diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta-fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak di dalam diri akuntan dalam menyatakan pendapatnya.
  2. Independensi penampilan, yaitu adanya kesan masyarakat bahwa akuntan publik bertindak independen sehingga akuntan publik harus menghindari faktor-faktor yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan kebebasannya. Independensi penampilan berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap independensi akuntan publik.
  3. Independensi praktisi (practitioner independence). Selain independensi sikap mental dan independensi penampilan, Mautz mengemukakan bahwa independensi akuntan publik juga meliputi independensi praktisi (practitioner independence) dan independensi profesi(profession independence). Independensi praktisi berhubungan dengan kemampuan praktisi secara individual untuk mempertahankan sikap yang wajar atau tidak memihak dalam perencanaan program, pelaksanaan pekerjaan verifikasi, dan penyusunan laporan hasil pemeriksaan. Independensi ini mencakup tiga dimensi, yaitu independensi penyusunan progran, independensi investigatif, dan independensi pelaporan.
  4. Independensi profesi berhubungan dengan kesan masyarakat terhadap profesi akuntan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi independensi auditor

          Tidak dapat dipungkiri bahwa bahwa klien berusaha agar laporan keuangan yang dibuat oleh klien mendapatkan opini yang baik oleh auditor. Banyak cara dilakukan agar auditor tidak menemukan kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan bahkan yang lebih parah lagi adalah kecurangan-kecurangan yang dilakukan tidak dapat dideteksi oleh auditor.
          Independensi akuntan publik dapat terpengaruh jika akuntan publik mempunyai kepentingan keuangan atau mempunyai hubungan usaha dengan klien yang diaudit. Menurut Lanvin (1976) dalam Supriyono (1988) independensi auditor dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.      Ikatan keuangan dan usaha dengan klien
2.      Jasa-jasa lain selain jasa audit yang diberikan klien
3.      Lamanya hubungan kantor akuntan publik dengan klien
Sedangkan menurut Shockley (1981) dalam Supriyono (1988) independensi akuntan publik dipengaruhi oleh faktor :
1.      Persaingan antar akuntan publik
2.      Pemberian jasa konsultasi manajemen kepada klien
3.      Ukuran KAP
4.      Lamanya hubungan antara KAP dengan klien


Kesimpulan
           Enron adalah contoh dari bisnis yang dibangun berdasarkan hampir seluruhnya terbuat dari kebohongan yang satu ditutupi dengan kebohongan yang lain. Sayangnya, banyak pihak yang rela ikut berpartisipasi dalam kasus besar ini karena mereka tahu bila kebohongan itu sudah terlalu besar dan melibatkan hampir setiap orang, maka tidak ada pihak lain yang terlihat "tidak berbohong." Dengan singkat, kisah Enron bisa diartikan sebagai pertemuan antara keserakahan dari eksekutif perusahaan dan kehausan kekuasaan dari para politikus.
          Satu hal yang harus disadari oleh setiap orang di seluruh dunia ialah kebijakan untuk mengambil makna dari kasus besar ini. Walaupun skandal Enron menyeret hampir seluruh jajaran institusi terkemuka Amerika, kita tetap harus memiliki keyakinan bahwa masih lebih banyak orang Amerika dan institusi-institusi yang berpijak pada hukum dan norma yang ada. Akuntan adalah salah satu profesi tertua dan paling konservatif di dunia, para akuntan memegang teguh kode etika yang diterapkan dan mereka bangga akan kebersihan dari nama baik akuntan yang sudah ratusan tahun umurnya




              http://prima-yulivani28211028.blogspot.com/2013/11/kasus-enron-corporation.html 


Sabtu, 21 Juni 2014

Reading of Toefl Test



Timing is a choice; you can always finish on time
 
             If you have trouble with timing, it's a mistake in strategy. Your job is to choose according to the timeline we provide in this chapter. Again, choose the best answer according to our timeline--even when you're not comfortable and even when you're guessing. This alone will raise your score. 
            When you sit down and take your seat after you’re finished registering and the examiner allows you to start the exam, you’re going to see the instructions for the reading section. They’re going to be read out loud to you. That’s going to give you some time to psychologically prepare yourself and become comfortable with what’s going to come next: the all-powerful reading section. 
            After the instructions are finished, your first reading will appear. It will consist of 700 words and it will take up the whole screen of your monitor, so you’re not going to see any questions. You will need to scroll down through the reading and then click next before you start to see the questions. The reason is to give you a chance to look at the reading. It doesn't mean that you should read the whole essay though. (We’ll learn more about what to do here later.)
            Remember (from the TOEFL overview section) that you'll receive either 3 or 4 readings on your TOEFL. Each reading will contain approximately 700 words and require you to answer 14 questions within 20 minutes. You’ll see a timer on the upper-right hand corner of your exam. It’s there to help make sure that you don’t spend too much time on any one question and it’s going to count from 60 or 80 minutes down to 0 (depending on if you get that extra experimental reading or not; explained in our TOEFL overview section). Once it hits 0, your answers will be recorded and you will move on to the listening section never to return to the reading again. Consequently, to succeed, look at that timer and monitor your time as you answer the questions to answer all of them (or at least guess on them) before time runs out.

Answering on the Toefl Reading
            As you answer, you will always be able to jump to different questions. For example, let’s say you’re answering questions 1, 2, 3, 4, and then 5. Then, you think to yourself,
“Wait a second, I think I understand 3 better. Let me go back and change the answer.”
             You will be able to do that. When you finish the last question (number 42 or 56), you’re going to see a chart that shows you the questions that you answered and didn’t answer. You’ll be able to double-click on a question to jump directly to it in the reading. You'll also be able to jump around a bit for the questions in the reading you're succeeding at during the exam. I’m explaining this to let you know that you can bounce around once you finish the reading to double check your answers. But, of course, we’ll learn to be focused and exact as we answer so that we won’t need to do this. 
            When you finish the first reading, you’re going to move on to another reading and so on and so on until you complete your set: either 3 or 4.

Attacking the Toefl Reading
            First, you don’t want to read the whole passage before you start answering the questions; if you do, it will be a very inefficient and time-wasting way to read. Instead, acquire a basic idea of the reading and prepare your mind for what you’re going to read about by first reading the title. Then, read the first sentence (which is the all important topic sentence) of every paragraph. Do this to get a quick introduction to the reading before you read it in detail. Below is a picture to get a visual idea of this; it's that important that we created an image to make it absolutely clear. The black boxes represent the title and pargraphs and the red lines represent what you will read.
            Only spend 1 minute doing this. Anymore than that and it will be too much time; spend all of the time that you can answering the questions since that’s where your score comes from. To finish within 1 minute, you might have to read only pieces of the first sentences (subject, verb, object only) since they can be quite big.

            After you read the first sentence, read question number 1, not the answers but the question. Establish an idea of what it’s asking about. Then, start reading the passage from the very beginning in search of the answer to that question. In this way, you will concentrate only on what’s important and what will earn you a higher score. We read the first sentences in the first minute to picture the idea of what the passage is about as we work to answer the question; it helps. This challenges students when they aren’t used to it. However, everyone who’s tried it sticks with this method of attack because it works.
            Once you answer question number 1, go onto question number 2 in the same way. The TOEFL questions proceed in chronological order, so the answer to number 1 is in the beginning of the passage and the answer to number 12 is towards the end. 
As we discussed earlier, timing is important and it’s very easy for students to run out of time. Follow this guideline carefully and you will never have that trouble again. That's right: you will never have trouble again. 
1st Reading
 80 min - 79 min : read the first sentences
79 min - 72:40 min : answer questions 1 - 5
72:40 min - 66:20 min : answer questions 6 - 10
66:20 min - 60 min : answer questions 11 - 14

2nd Reading
 60 min - 59 min : read the first sentences
59 min - 52:40 min : answer questions 1 - 5
52:40 min - 46:20 min : answer questions 6 - 10
46:20 min - 40 min : answer questions 11 - 14

3rd Reading
 40 min - 39 min : read the first sentences
39 min - 32:40 min : answer questions 1 - 5
32:40 min - 26:20 min : answer questions 6 - 10
26:20 min - 20:00 min : answer questions 11 - 14

4th Reading
 20 min - 19 min : read the first sentences
19 min - 12:40 min : answer questions 15 - 19
12:40 min - 6:20 min : answer questions 20 - 24
6:20 min - 0 min : answer questions 25 - 28
            You should be able to tell that through this timing guideline, you have more time to answer the final questions of the reading than the first questions. The final questions demand the most time and concentration, so don’t change this.
             Also, this timing structure is set up for when you do have an extra experimental reading. If you don't, simply start from 60 minutes and follow the timing precisely.

Toefl Reading Question Types and Strategies
            Below is a lecture that I recorded to explain the basics of the question types that you'll find on the TOEFL readings and the strategies to answer them. This is a very important part of your preparation because these strategies will help you to answer faster, easier, and more accurately. Consequently, pay careful attention, listen more than once, and take great notes.

Practices Toefl Reading
Water in the Desert
             Desert areas of the world are not completely void of precipitation, but rainfall in these regions is known to vary greatly. Typically, scientists use an annual rainfall amount of four inches as the dividing line between desert and non-desert areas. While these arid regions may receive a similar amount of rainfall each year, how that rainfall affects surface water and groundwater resources is largely dependent upon the area’s topographical characteristics. For example, landforms such as flats and depressions common to deserts are known to collect water, but these features constitute only a small percentage of the desert landscape.
            It is interesting to note that these arid lands in fact contain some of the earth’s largest systems of rivers. In the cases of these river systems, the sources of the rivers lie outside the arid region itself, and hence they are known as “exogenous” rivers and systems. These exogenous systems play a critical role in nourishing life in the world’s most parched regions. For example, annual flooding of the Nile, Tigris, and Euphrates rivers has long supplied residents with water and brought in fertile silt to help agriculture. With the advent of modern technology, however, this flooding is largely managed by human hands, which has required more governmental cooperation among nations in crafting treaties and agreements regulating the use of these river basins. 
            In addition to human intervention, the flow of exogenous rivers is impacted by the season. Ironically, it sometimes takes a number of months for the effect of a rainy season outside a desert area to be felt within it, so by the time the peak flow finally arrives, it may in fact be the driest time of the year. While this additional water does aid the irrigation for agriculture, weather changes during the dry season like higher temperatures and lower humidity may make the cultivation of some crops even more challenging than it is during the normal growing season.
            In contrast to exogenous rivers, those identified as “endogenous” systems begin and end within the arid region. Water in these systems generally comes from groundwater springs, but many of these rivers are fed by water coming from limestone massifs, such as the Atlas Mountains in Morocco. Rivers of this variety tend not to reach the sea, but instead end up draining into inland basins, where most of it is simply lost to evaporation or disappears into the ground.
            Though rivers and lakes are present in desert areas, groundwater makes up a much larger percentage of the total water in these regions. However, only a small portion of these underground deposits ever reach the hydrologic cycle; i.e., it never enters the constant movement of water on, above, and below the surface of the earth that characterizes most of the planet’s other water resources. The groundwater that does enter into this cycle usually does so by feeding the flow of streams or by maintaining water levels in lakes. Water taken in this way from groundwater stores is then refilled by surface flows and rainwater. International organizations such as the United Nations and the World Bank have both funded efforts to survey existing groundwater in arid lands and to create effective methods to draw usable water from these sources.  These efforts are particularly necessary due to the lack of clear understanding in these regions about just how much groundwater exists. What is known, however, is that these groundwater deposits are very unevenly distributed, and that much of this water can be found deep beneath the earth’s surface.
            These groundwater deposits are found underground in open spaces between, inside, and among rocks and sediment. These water-laden layers of earth are known as “aquifers.” In general, limestone and sandstone aquifers tend to be deep and large, which contributes to their relatively high concentration of minerals. They are usually not replenished because they became saturated more than 10,000 years ago and do not need to be. These deep aquifers are sometimes called “fossil waters” to denote the fact that this water has been present for so long. On the other hand, shallow aquifers found in sand or gravel are much less extensive, but they can quickly be replenished.
1.      According to paragraph 1, what do scientists use to determine whether or not an area is labeled a desert?
a.      The amount of annual rainfall
b.      The lack of groundwater resources
c.       Topographical characteristics
d.      The absence of flats and depressions in the landscape
2.      The word “depressions” in the passage is closest in meaning to...
a.       Rifts
b.      Dunes
c.       Ranges
d.      Basins
With the advent of modern technology, however, this flooding is largely managed by human hands, which has required more governmental cooperation among nations in crafting treaties and agreements regulating the use of these river basins.
3.      Which of the sentences below best expresses the essential information in the highlighted sentence in the passage? Incorrect choices change the meaning in important ways or leave out essential information.
a.       Government involvement in the creation of treaties and agreements enhances flood-controlling modern technology of river basins.
b.      Technology has allowed for better human management of floods, making river basin regulation agreements largely unnecessary.
c.        Humans have been able to use technology to control flooding, which has made international cooperation on the use of river basins more necessary.
d.      More modern technology will lead to better flood management because intergovernmental treaties regarding river basins allow for cooperation.
4.      The word “arid” in the passage is closest in meaning to....
a.       Moist
b.      Dry
c.       Deserted
d.      Airy
5.      In paragraph 3, the author mentions all of the following about the flow of exogenous rivers EXCEPT:
a.        The impact of the flow is often felt in the driest seasons.
b.      The flow can be an aid in the cultivation of crops.
c.       The effects of the flow are not felt immediately.
d.      The flow is unaffected by the season of the year.
6.      According to paragraph 4, what distinguishes an endogenous river from an exogenous river?
a.       An endogenous river flows into a limestone massif.
b.      The source of an endogenous river is within the desert region.
c.       The endogenous river does not reach the sea.
d.      Endogenous rivers have a higher saline content than exogenous rivers.
7.      The word “stores” in the passage is closest in meaning to...
a.       Locations
b.      Accumulations
c.       Caves
d.      Discoveries
8.      According to paragraph 5, what are some international organizations now doing in desert areas?
a.        They are creating new methods for drawing these resources to river basins.
b.      They are paying for efforts to survey existing groundwater resources.
c.        They are giving monetary grants to individual inhabitants of arid lands.
d.      They are trying to equalize the uneven distribution of groundwater.
9.      Why does the passage mention in paragraph 5 the fact that the exact extent of groundwater resources is still unknown?
a.       To highlight the lack of scientific research being done in desert areas.
b.      To illustrate the importance of freshwater to the inhabitants of deserts.
c.       To explain why the recent actions of the United Nations and others are needed.
d.      To show how groundwater can affect the flow of exogenous rivers.
10.  The word “replenished” in the passage is closest in meaning to...
a.      Refilled
b.      Rejuvenated
c.       Reinvigorated
d.      Rescinded